Kamis, 11 Januari 2018

Jeremy Teti... LaGiBeTe






Akhtar...gaya duduk

hujan baru luruh. Sedari mendung sejak pagi tadi. Akhtar...,baru selesai mandi. rambut panjang-nya masih kelimis, menyisakan warna basah..jejak ampas air. Rebutan gadget dengan Jihan, kakak ke-3 tunggal. Sudah menjadi bumbu polah rutinitas.
Mars lumograph 100 EE.... pensil dengan isi grafit tebal jadi pilihan eksekusi gaya duduknya. Melengkung...sesekali tegak lurus. Sket lekas di palka ruang depan. EE.. Edehkamanae...., (rekam Rebo 10'th Januari 2018)


Rabu, 10 Januari 2018

Denise Richard





ahok but not hoax



Sketching & telling story

Belum total puncak terik, setiba kami di pasar #KebonRoek. Nanar sepenggalah naik. Dan demi isi luang mencari obyek visual..saya menaiki tangga utama depan. Belajar perspektif ala mata burung.
Agak mambu disini!!! menyengat,,aroma feces kering 🤮...., Bisa jadi ini ulah orang gila yang BABS. Atau justru, "sabotase" (oknum) paling jitu demi menggiring pembeli tetap eksis di lantai dasar. Trik basi... yang biasa dipraktekkan oleh para begundal pasar.
Nasib tangga ini memang mangkrak! Sebagian pedagang lebih pilih praktis duduk mukim di areal terbuka berbatas lahan parkir. Ogah move-on to above level ground. Berbaur dengan pembeli yang lebih antusias mencari barang belanjaan dibawah sana. Dan kanopi warna-warni itu terlalu mainstraim untuk di abadikan sekian kali.
Pilihan angle akhirnya tiba pada penjual es serut. Campuran isi deliman..kelapa atau ganti 'endes' ( sebutan lokal untuk timun suri) dan tape. Nama penjualnya pak Saleh. Rombong es beliau semacam anugerah bak 'oase' bagi kalangan seliweran disekitarnya. Terlebih tampak 3 orang lain ikutan dompleng lapak memanfaatkan sebagai 'tetaring'. Zona tajuk peneduh, sementara matahari belum tergelincir tengah puncak.
3 inaq-inaq itu beda fokus. satu jual mangga...satu dagang pernik riasan rambut dengan gelaran seadanya. Inaq posisi tengah gak gelar apa-pun....Bisa jadi dia tukang 'reson' (buruh panggul) yang meski kelelahan..tetap sigap mencari target bisnis-nya. Keliatan dari serbet andalannya!
Dari istri saya, terkuak riwayat pak Saleh. beliau ini eksistensi-nya jual es serut sudah lamaaaa banget. Pernah mangkal di madrasah Kampung Melayu Tengah-Ampenan, sejak kurun taon 80-an. Sebelum akhirnya mulai hijrah rintis karir di stan parkir pasar KebonRoek. Entah di tahun berapa. Sejatinya sosok pejuang yang survive untuk tetap istiqomah dibidangnya. Sesuai lintas alih roda jaman. Rambutnya memutih...uban yang identik urban. Tapi masih mengenal baik istri saya yang pernah jadi pelanggan cilik-nya. Rekam ingatan yang fasih bekerja  Keep fight..as oase!